Tiba-tiba saya terbangun ketika mendengar suara langkah kaki di selasar. Dimanakah saya sekarang? tempat tidur nya terasa asing. Baru teringat kalo pangkalan kerinci sudah ditinggalkan dan sekarang sedang berada di tanjung batu. Perlu lima menit untuk mengumpulkan nyawa yang berserakan. Saatnya mandi dan mengelilingi kota tanjung batu di pagi hari. Walau jam masih menunjukan pukul lima pagi tapi semangat harus terjaga. Kapal menuju tanjung balai akan berangkat pukul tujuh pagi. Jika tak segera bangun, keindahan kota tanjung batu di pagi hari pasti akan terlewatkan. Ransel kembali di packing dan menyisakan sebuah tas kamera untuk dibawa jalan pagi.
Ketika saya keluar masih sepi sekali. Hanya tampak petugas penginapan yang sedang membersihkan loby. Hmmm.. Segarnya ketika udara diresapi dalam-dalam ke paru-paru, ketika doa ikut terhayati dalam nafas di pagi hari. Menoleh ke kiri tampak sebuah lorong di antara bangunan rumah kayu yang dibangun sekaligus menjadi jalan menuju dermaga. Di depan rumah-rumah yang mungkin sebagian menjadi gudang, terdapat jalan setapak yang mengarah ke dermaga. Bagian awal dari jalan setapak masih berupa jalan tanah, tapi dilanjuti dengan jalan dari kayu, karena sudah di tepi laut. Di dermaga rupanya sedang ada sebuah kapal barang yang sedang menyandar. Seorang kakek yang sudah bongkok tampak sedang merapikan kondisi kapal itu. Sepertinya baru semalam mereka bersandar dan bongkar muat di dermaga itu. Wah kakek setua itu sepertinya sudah berpengalaman sekali di laut. Mungkin separuh hidupnya dihabiskan di laut. Hmmm.. ada dua kemungkinan dari pak tua ini, dia sangat mencintai laut, atau kondisi hidup membuatnya mau tak mau harus berada di laut sampai akhir hayatnya.
Memang kita yang menentukan takdir hidup kita. Tuhan menyediakan takdir hidup kita, tapi kita yang memilih dan menjalaninya. Pak tua itu begitu serius melakukan aktivitasnya. Sama sekali tak menghiraukan kehadiran orang di sekitarnya. Tak perlu saya ganggu sepertinya.
Rupanya kota ini menghadap ke timur. Jadi tampak matahari yang sedang terbit di ufuk timur di seberang lautan. Bagi saya tanjung batu begitu humble dengan semua tampilan kota yang sederhana dan berundak-undak di tepi laut. Matahari seakan tak pernah lupa mengucapkan selamat pagi ke kota yang sederhana namun hangat ini. Tampak melintas kapal kayu dengan matahari terbit di belakangnya. Begitu anggun dan gagah. Semua menghanyutkan saya pada permenungan arti kehidupan. Ketika kita melupakan keindahan matahari terbit demi segepok uang, ketika kita lupa akan kehangatan cinta dalam keluarga demi karir yang tak pernah habis. Ketika kita melupakan kasih orang-orang yang mencitai kita demi status sosial. Akankah semuanya itu lebih indah dari pada keindahan pagi ini?
Sepertinya saya harus melanjutkan permenungan ini di lain waktu, karena waktu sudah menunjukan pukul enam lewat sepuluh, sedangkan kapal ke pulau berikutnya akan berangkat lima puluh menit lagi. Saatnya kembali ke penginapan. Ketika melintas jalan setapak kembali ke hotel, tampak ada jalan ke kiri dengan kontur yang berundak-undak. Penasaran melihat ada bangunnan di atasnya, melangkahlah kaki ini mengikuti jalan itu. Saya melewati beberapa rumah dan seorang bapak yang sedang membelah kayu bakar dengan kampak. ketika sampai di atasnya, rupanya ada sebuah kelenteng yang berdiri dengan megahnya. Ada Gapura dengan kiri dan kanannya di jaga oleh dua bendera seperti bendera perang zaman Samkok.
dari pelataran di depan gapura itu saya bisa melihat sebagian kecil kota tanjung batu dan lautan yang membentang di depannya. Wah.. unik dan indah sekali.. Sisa-sisa matahri terbit yang saya kagumi tadi tampak semakin indah dari atas sini.
Saya coba melangkah menuju gapura tersebut. Di dalamnya ada kelenteng yang tidak terlalu besar tapi anggun dengan ukiran khas cina dan ada patung dewi Kwan Im di sisi kiri dari kelenteng tersebut. Ketika melongok ke dalam kelenteng, ada seorang bapak yang sedang membersihkan kelenteng tersebut. Sedikit ragu apakah saya boleh mengambil beberapa foto di situ, maka minta izin lah saya ke bapak itu. Rupanya dengan ramah dia malah menunjukan bagian-bagian yang unik dari kelenteng tersebut. Di foto tidak masalah asal jangan menyentuh barang-barang di dalam kelenteng itu. Tampak ada pedang, golok dan peralatan perang lain seperti di cerita-cerita kungfu. Pertama kali saya pikir hanyalah pajangan, tapi ternyata peralatan itu digunakan dalam pertunjukan kebal setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan cina. Peralatan perang ini dipercaya sebagai peralatan perang yang digunakan oleh para dewa-dewa yang ada di meja altar. Percaya tidak percaya, menurut bapak itu, jika thai pak (pemimpin kelenteng) tidak bersih, maka dalam pertunjukan akan terluka. Tapi jika mereka dalam keadaan bersih, senjata itu tidak akan bisa melukai mereka. Sebelum melakukan atraksi, para thai pak biasanya berpuasa dan terlebih dahulau dengan hanya makan nasi putih dan air putih. Pertunjukan ini biasanya untuk merayakan sembahyang rebut yang diadakan di kelenteng setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan cina.
Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di sini, tapi rupanya jam di
tangan saya sudah menunjukan pukul enam lewat empat puluh menit. Maka buru-buru saya pamit dan kembali ke penginapan sambil setengah berlari. Kalo ketinggalan kapal bisa berabe nih. Masuk ke kamar penginapan, sambar ransel dan mengembalikan kunci ke receptionist sambil bertanya: “Mas kalo kapal ke tanjung balai jam berapa?”. Jam 7.30 bang, kata si receptionist itu. Wah.. lega sekali rasanya. Jadi saya masih ada waktu untuk menikmati sarapan di kedai depan penginapan.. Hmmm Mie sea food.. manthap…
Tanjung batu merupakan salah satu pulau yang menjadi tempat persinggahan fototour dalam rangkaian perjalanannya dari Pangkalan kerinci – Tanjung batu – Tanjung Balai- Batam – Galang – rempang – Galang Baru – Tanjung Pinang – Bangka, dengan moda transportasi air
Hmmm kepuasan hidup yang tidak terbayar dengan uang ya…hehehe..
Win..kapan ketemuan yu?? G pengen ngobroll…
haha.. bener juks..
Ayo kita atur jadwal aja kapan..
Pingback: Happy Chinese new year « FoToTour..The journey of soul